RISALAH WANITA, EH, MENIKAH

May 3rd, 2009 by doniosmon

“Laki-laki yang yang tidak membutuhkan wanita sebagai pendorongnya adalah laki-laki yang angkuh, wanita yang tidak membutuhkan laki-laki sebagai pemimpinnya adalah wanita yang sombong”

Suatu waktu, seorang kawan yang mengaku ingin segera menikah dan siap ‘berburu’ wanita yang bersedia untuk dinikahi, mencoba meyakinkan kawannya, bahwa di dunia ini wanita merupakan segala-galanya, melebihi kendaraan yang disenangi. Melebihi materi apa saja. “Sekarang apa mobil yang bagus? BMW?” tanya laki-laki tadi kepada kawannya.

“BMW kali, atau apa ya?” jawab kawannya sekenanya.

“Diantara mobil-mobil itu, ketika melihatnya atau memikirkannya adakah jiwa kamu tergetar? Tidak kan?”

“Melihat mobil, jiwa saya tergetar? Tentu, tidak. Sebagus apapun mobil itu.”

“Tapi, coba wanita yang kamu senangi, selain berkeinginan memiliki, juga membuat hati tergetar kan…?”

“Hmmm…”

Apa yang dikatakan oleh laki-laki tadi barangkali suatu ‘rahasia’ yang semua orang juga sudah mengetahui, tidak laki-laki, tidak wanita. Tiada yang perlu diyakinkan, termasuk kami. Karenanya, ia tidak sedikitpun bisa diingkari, kecuali harus berbohong pada diri sendiri dan pada Tuhan semesta alam ini.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (TQS. Ar Ruum [30]: 21).

Memiliki seorang atau beberapa wanita yang dibenarkan, yang kemudian disebut istri, tidak bisa, kecuali dengan pernikahan, maka syariat menikah yang termaktub jelas perintahnya di agama ini, adalah sebuah kejujuran hati; menikah adalah syariat yang menjaga kesucian jiwa, syariat yang mengarahkan manusia untuk tidak mengingkari fitrah; untuk tidak hidup bermimbar pada kepalsuan. “Maka nikahilah wanita-wanitayang kamu senangi….” (TQS. An Nisaa [4]: 3). Hmm….[ ]

Apa Tuhan Memiliki Tangan

March 9th, 2008 by doniosmon

Apa Tuhan Memiliki Tangan

Dalam terminologi hadits, akan ditemukan istilah hadits mutawatir. Ini adalah suatu penamaan hadits yang didasarkan pada jumlah orang-orang yang meriwayatkannya (rawi) pada setiap generasinya, mulai dari masa ia diterima dari Nabi saw sampai masa pembukuannya (oleh ilmuwan hadits/muhadits). Bila di setiap masa terdapat sejumlah tertentu rawi (orang yang meriwayatkan), yang mana jumlah itu secara alami memustahilkan terjadinya kesepakatan dusta diantara mereka, maka hadits yang sampai dengan cara demikian (disebut sampai secara tawatur), dinamakan hadits mutawatir. Di luar dari hadits mutawatir yang sampainya dengan cara itu, di sebut hadits ahad. Demikian lah dua pengkategorian berdasarkan jumlah rawi-nya.

Ketika sudah diketahui sebuah hadits adalah hadits mutawatir, maka tidak ada lagi pembahasan apakah hadits itu sahih atau tidak. Pembaca bisa mendalami pembahasan ini dalam berbagai buku ilmu-ilmu hadits. Bisa dikatakan, sebuah hadits mutawatir adalah sebuah hadits yang dipastikan sebagai sesuatu yang berasal dari Nabi Saw.

Dalam penggunaannya, di samping Al Quran yang juga sampai ke setiap generasi melalui periwayatan yang sama, hadits mutawatir dibenarkan digunakan untuk landasan argumen pembangun akidah. Tidak ada perbedaan pendapat para ulama Islam akan hal ini. Adapun hadits yang jumlah perawinya tidak terkategori mutawatir (haditsnya disebut hadits ahad), tetapi ia sahih (ada dugaan lebih kuat ia berasal dari Nabi saw daripada dugaan bukan dari Nabi saw), maka terjadi perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat itu muncul pada pembahasan apakah sebuah hadits ahad sahih (selanjutnya disingkat dengan sebutan hadits ahad) bisa dipahami mengantarkan kepada kepastian atau tidak. Mayoritas ulama menolak menggunakan hadits ahad sebagai pijakan untuk membangun akidah. Bahasan kita di sini bukan untuk ikut memperdebatkan hal tersebut.

Yang jelas, ada satu kesimpulan yang bisa ditarik: umat Islam tidak berbeda pendapat bahwa persoalan akidah wajib dibangun dengan kepastian. Ini menjadi karakter unik dari agama Islam, yang membedakannya dengan agama-agama lain.

Dengan adanya sifat kepastian ini, produk tafsir tidak diterima untuk dimasukkan sebagai bagian dari akidah.

Begitupun, produk takwil. Sebagai contoh, bila di Al Quran ditemukan ayat yang menggambarkan Tuhan memiliki tangan, maka pembahasan berhenti sampai di situ. Ia harus diterima demikian, tanpa perlu dipalingkan makna ’tangan’ menjadi makna ’kekuasaan’. Cukup dikatakan: Tuhan memiliki tangan. Adapun pertanyaan seperti apa tangan tersebut, sudah terjawab dengan kepastian lain: hakekat wujud Tuhan berbeda dengan segala hakekat seluruh makhluknya. Adapun bila makna ’tangan’ yang diberitakan Tuhan itu dipalingkan ke makna ’kekuasaan’, maka akan melahirkan kemungkinan dimana kekuasaan hanyalah salah satu kemungkinan dari makna yang dikandung oleh kata tangan. Bila seperti ini yang dilakukan, tidak akan melahirkan akidah yang bersifat kepastian, justru akan memunculkan kemungkinan-kemungkinan atau persangkaan-persangkaan. Celaan Tuhan kepada umat-umat selain Islam dalam Al Quran adalah pada persoalan ini, yaitu mereka semua membangun akidahnya dari persangkaan-persangkaan.

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta”. (TQS. Al An’aam [6]: 116).

Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran” (TQS. Al Najm [53]: 28).

Tentu bila ditanyakan kepada orang-orang selain Islam, Kristen misalnya, apakah benar segala sesuatu yang diimani adalah kepastian, mereka akan menjawab ’iya’. Namun, tentu yang dibutuhkan adalah bukti dari pengakuan itu, bukan sekedar pengakuan. ”Katakanlah (kepada orang-orang kafir itu): "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu (TQS. Al Baqarah [2]: 111).

Pada kenyataannya, hal yang diakui itu, tidak terbukti. Apa yang terjadi pada orang kafir justru membuktikan hal yang sebaliknya dari apa yang mereka akui itu. Ini terlihat dari metode mereka membangun akidah. Dalam hal ini akidah trinitas. Dengan akidah ini, mereka menyampaikan perkataan: Tuhan itu satu dalam tiga dan tiga dalam satu. Namun, ketika dimintakan mana teks yang menunjukkan kebenaran perkataan itu, maka tidak ada diantara mereka yang sanggup menghadirkan. Sehingga, perkataan itu semata-mata penafsiran-penafsiran dan penakwilan-penakwilan atas teks-teks yang mereka miliki. Ini cukup menjadi bukti, bahwa kepastian yang mereka klaim itu, tidak ada dalam kenyataan. Yang ada adalah persangkaan-persangkaan dan itulah yang mereka ikuti. Benar, apa yang dberitakan Al Quran: ”Mereka tiadalah lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan” (TQS. An Najm [53]: 23).

Lebih tajam lagi, bahkan teks-teks yang mereka punyai dipaksakan untuk sesuai dengan hasil persangkaan itu. Hal ini terlihat jelas di saat mereka menuhankan Nabi Isa as (Yesus). Teks-teks yang mereka punya sudah sedemikian jelas bermakna bahwa sosok Nabi Isa as adalah sosok yang bukan Tuhan: butuh makan, memiliki rasa kuatir, pernah keliru, mengalami kesakitan dan seterusnya. Namun, mereka tidak menerima itu apa adanya. Mereka membuat tafsiran teks-teks itu agar sesuai dengan hasil penafsiran yang telah mereka buat sebelumnya. Dalam hal ini, bila ada di teks-teks keterangan Nabi Isa mengalami kesakitan atau penderitaan, maka mereka membuat tafsiran: Tuhan mengalami kesakitan adalah wujud kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya dengan ikut merasakan penderitaan seperti yang dirasakan manusia. Begitu secara konsisten mereka lakukan. Begitu mereka turun temurun’mewariskan’ penafsiran-penafsiran generasi ke generasi, sampai generasi saat ini. Penafsiran-penafsiran seperti inilah lah yang mereka sebut ’iman’ dan tidak boleh dipikirkan.

Itu dari segi penunjukkan makna atas teks yang mereka gunakan (Bible), belum lagi dibahas dari segi keberadaan teks-teks itu sendiri bila di telaah dari segi translasi dan transmisi-nya dari masa ke masa. Apa yang mereka jadikan sumber teks bagi ’iman’, tidak bisa dipastikan sebagai sesuatu yang berasal dari Nabi Isa as, apalagi dari Tuhan. Bahkan, mustahil! Mereka menyandarkan itu sebatas kepada para individu penulis-penulis teks-teks tersebut. Hasil tulisan tersebut yang mereka sebut sebagai Injil Paulus, Injil Matius dan sebagainya, tergantung kepada nama orang yang disangka menjadi penulisnya.

Dan bahkan, apa yang kebanyakan mereka punya saat ini bukanlah teks asli dari penulis yang mereka sangka itu. Hasil terjemahaan lah yang mereka bawa-bawa ke mana-mana. Itulah yang mereka katakan sebagai firman Tuhan dan mereka kompilasi menjadi suatu kitab bernama Bible/Bibel/Alkitab. ”Ini dari Tuhan,” kata mereka.

Atas dasar itu mereka membangun akidah. Jadi, akidah mereka didasarkan atas prasangka akan kebenaran dan kejujuran seseorang. ”Iman itu seperti kita percaya kepada pacar kita,” kata salah seorang pemuda Nasrani masa kini membuat analogi. Tak ada yang perlu dibantah, ia telah menyatakan keadaan sebenarnya dari akidah yang ia miliki. Benar apa yang dikatakan Al Quran:Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka” (TQS. An Najm [53]: 23).

Banyak sekali celaan-celaan kepada orang kafir terhadap soal mengikuti prasangka atau dugaan di Al Quran, dan itu semua berkaitan dengan persoalan akidah mereka. Sehingga, sebuah kebenaran bila dikatakan akidah Islam wajib dibangun dengan kepastian. Inilah yang membedakan antara keimanan dan kekafiran. []

Kisah Tuhan dan Batu Besar

January 24th, 2008 by doniosmon

Kisah Tuhan dan Batu Besar

Tuhan itu maha kuasa, Allah berfirman: Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (TQS. Al Baqarah: 109). Tuhan itu bisa berbuat apa yang dikehendakinya, Allah Swt berfirman: Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya (TQS. Al Baqarah: 253).

Bila kita menjelaskan kekeliruan akidah trinitas pada orang-orang Nasrani, salah satu kemungkinan jawaban yang akan kita dapat adalah Tuhan itu maha kuasa. Ia berbuat apa yang dikehendakinya. Bila Tuhan menghendaki bahwa Ia terdiri dari 3 dalam 1, 4, 5 atau berapa saja, itu bisa saja terjadi. Sebab, dirinya Maha Kuasa.

Sungguh, suatu jawaban yang menarik, yaitu bisa saja Tuhan tiga, bisa saja empat, bisa saja punya anak, punya cucu dan bahkan punya keluarga. Siapa yang menghalangi, bukankah Ia maha kuasa.

Al Quran yang sangat banyak berbicara tentang kekuasaan Tuhan ini (Al Baqarah: 20, Al An’aam: 61 dan lain-lain), juga di dalam Al Quran, terdapat bantahan Tuhan kepada anggapan orang-orang Nasrani tentang ajaran trinitas. Firman-Nya: Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: " Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" (TQS. Al Maidah: 72). Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam" (TQS. Al Maidah 17).Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, ‘Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan roh dari-Ny . Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan : " tiga", berhentilah . (Itu) baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. (TQS. An Nissa: 171).

Itulah perkataan-perkataan tentang Tuhan. Ada perkataan ‘tidak beranak’, dan ada perkataan ‘beranak’. Ada perkataan ‘satu’ dan ada perkataan ‘tiga’. Apakah kedua-duanya benar; perkataan yang diajarakan Al Quran dan perkataan yang diterima dari selain Al Quran, padahal yang sesungguhnya yang menciptakan langit dan bumi adalah Tuhan yang itu juga?

Dengan disandarkan kepada kemahakuasaan Tuhan apakah juga akan dikatakan bahwa kedua-duanya adalah benar. “Bila Tuhan menghendaki, bisa saja terjadi bukan? Bukankah ia maha kuasa?” Kalau begitu, gula adalah kopi dan kopi adalah gula. Kalau begitu, agama sungguh tidak membawa manfaat apa-apa dalam kehidupan ini.

Suatu kali, Tuhan diceritakan membuat batu besar, saaaaaangaaat besaaar sekali. Pokoknya besar deh! Juga sangat berat, sangaaaat beraat sekali. Tak ada manusia yang mampu membayangkan berat dan besarnya. Saking berat dan besarnya, diceritakan sampai-sampai Tuhan tidak sanggup mengangkat batu yang Dia buat tersebut. Pertanyaanku, apa pendapat anda akan hal ini? Apakah mungkin hal ini terjadi pada Tuhan? Bila anda menjawab ‘tidak’, maka mengapa tidak, bukankah ia bisa berbuat seperti dikehendakinya. Bila Dia menghendaki diri-Nya mati di tiang salib (dibunuh manusia), seperti anggapan Nasrani, bisa saja terjadi bukan? Ini persoalan yang lebih besar dari sekedar persoalan mengangkat batu. Itulah akidah orang Nasrani, akidah dalam secangkir kopi.

Jelas, aku benar-benar sulit menahan tawa ketika menuliskan kata-kata ini. Tuhan jelas tidak bertanggungjawab atas bohong besar yang amat sangat ini. Tuhan akan membalas akibat tidak berpikir ini dengan balasan yang pedih. Itulah yang dijanjikan kepada orang-orang kafir, dimana mereka membenarkan dongeng-dongeng yang menjadikan Tuhan dan Nabi-Nya sebagai tokoh utama. Firman-Nya: “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, : "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah yang tidak benar dan kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya” (TQS. Al An’aam: 93).

Karena itu, untuk keselamatan kita, mari kita terima perkataan yang diajarkan dalam Al Quran. Inilah perkataan yang benar: Katakanlah: "Dia-lah Allah, (Tuhan) Yang Satu. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan (TQS. Al Ikhlas: 1- 3). Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, Tuhan Yang Satu dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (TQS. Al Baqarah: 133).

Perkataan dalam Al Quran ini juga seiring dengan kemahakuasaan Tuhan, seiring dengan kehendaknya. Sedangkan, perkataan selain itu berbenturan dengan kemahakuasaan Tuhan. Termasuk perkataan orang-orang Nasrani. Firman-Nya: Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam". Katakanlah: "Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?". Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (TQS. Al Maidaah: 17).

Ya, Allah, aku telah menyampaikannya! Saksikanlah! [dosmon@gmail.com].

Mustahil Tuhan Tiga

January 18th, 2008 by doniosmon

Mustahil Tuhan Tiga

Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

(TQS. Al Ikhlas: 1)

Bumi dan alam semesta ini menjadi satu kesatuan yang utuh. Ada tanah, ada ruang, ada udara, ada cahaya, ada tumbuhan, ada hewan dan seterusnya, masing-masing pasti berkait erat satu sama lain; langsung atau tidak langsung. Ikan terikat kepada air, sedangkan air terikat kepada ruang dan ruang terbentuk karena adanya materi disekitarnya. Masing-masing tadi saling berkait ibarat komponen-komponen dalam suatu perangkat komputer untuk mengetik tulisan ini. Buktinya, anda tidak bisa meng-upgrade komputer anda sekehendak tanpa mengetahui spesifikasinya. Semakin berpikir, akan semakin mendalam pemahaman anda terhadap hal ini.

Bumi dan alam semesta ini beserta isinya (sesuatu yang lebih kompleks dari sebuah komputer), bila diyakini keberadaannya adalah karena adanya Tuhan sang Pencipta, maka diyakini pula mustahil Tuhan sang Pencipta tersebut berbilang (berjumlah lebih dari satu).

Mustahil Tuhan itu berbilang. Mustahil Tuhan itu dua, tiga, empat dan seterusnya. Tuhan itu mesti satu. Itulah Tuhan yang layak disembah seluruh manusia, Tuhan yang sebenarnya.

Bila tidak demikian tentulah akan terjadi bentrok atau crash dari alam semesta ini. Pada akhirnya berujung kehancuran. Barangkali ada kemungkinan lain? Misalnya, Tuhan adalah satu tim yang saling bekerjasama?

Bila ada keyakinan seperti ini, sama artinya Tuhan memiliki keterbatasan. Sebab, eksistensi suatu kerjasama adalah masing-masing pihak harus mengerjakan sesuatu tidak secara menyeluruh (yang berarti ada pembatasan). Selanjutnya, dengan adanya sifat keterbatasan ini, apa bedanya Tuhan dengan kita. Apa bedanya Tuhan dengan segala ciptaan yang ada. Apa bedanya dengan batu. Apa bedanya dengan tanah, dengan udara, dengan kambing, dengan ayam; yang kesemuanya (harus) memiliki keterbatasan.

Kesimpulan akhir dari keyakinan bahwa Tuhan adalah satu tim adalah: Tuhan tidak ada!

Haruslah hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah Swt. ”Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.” (TQS. Al Anbiya: 22).

Pengesaan Tuhan atau tauhid adalah pondasi agama Islam. Telah kafir lah mereka yang berkata terdapat sekutu bagi Tuhan. Mereka yang bersikap yang demikian itu disebut orang-orang yang tidak menggunakan akal (dalam hal mengenal Tuhan mereka). Inilah gambaran abadi orang-orang kafir: ”Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. (TQS. Al A’raaf: 179).

Mereka, orang-orang kafir dan mati dalam kekafiran itu, akan menjadi ’member’ dari suatu kaum yang digambarkan Allah Swt di Akhirat kelak: "Mereka akan berkata: sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala" (TQS. Al Mulk:10). []

‘METODE TIDAK PRAKTIS’ DALAM BERDAKWAH_KISAH DENGAN SEORANG AKHI

January 11th, 2008 by doniosmon

Pernah suatu kali seorang mahasiswa berkenalan dan menanyakan sesuatu pada seorang jamaah suatu masjid kampus, apakah dia juga ikut partai politik Islam (disamping organisasi dakwah formal fakultas). “Dulu saya ikut Hizbut Tahrir…” kata si mahasiswa yang ditanya. “Tetapi sekarang saya bergabung partai XXX (bukan nama sebenarnya),” tambahnya pula.

“O, begitu? Kok bisa?”

Saya tahu ada seseorang di partai tersebut yang menjabat suatu jabatan di pemerintahan dan ketika ia diajak untuk melakukan korupsi, tetapi masya Allah, ia menolak….” jawab si mahasiswa.

Barangkali di partai sekuler juga punya figur seperti yang antum sebutkan itu. Nanti orang dari Partai Kerbau (bukan nama sebenarnya) juga akan memunculkan kisah yang anda contohkan itu. Saya tahu Hizbut Tahrir, dalam sebuah bukunya yang saya baca, dijelaskan bahwa sebuah kelemahan dari umat Islam adalah masih banyak diantara umat ini bergerak di suatu gerakan hanya karena figur-figur tertentu. Maka, hal yang ingin saya tanyakan, dalam hal ide yang menyebabkan antum memilih partai tersebut, ada nggak yang lebih kuat dari Hizbut Tahrir? Sejauh pemahaman antum?”

Ketika pihak yang ditanya keliatan kelabakan, penanya cepat mengerti akan ketidaksiapan si ikhwan dan berkata, “Setahu saya, yang benar-benar partai itu kan Hizbut Tahrir? Hizbut Tahrir lah yang memiliki konsep-konsep partai. Dibanding partai yang antum sebutkan itu, Hizbut Tahrir yang lebih memiliki konsep-konsep hukum-hukum Islam dalam berbagai aspek bernegara, seperti aspek ekonomi, sanksi pidana, sumber keuangan negara, hubungan internasional dan sebagainya.”

Si ikhwan itu terdiam, lalu pihak yang mulanya bertanya melanjutkan, “Saya juga pernah mengikuti liqo-liqo (pertemuan) yang digiatkan oleh aktivis partai yang antum sebutkan itu dan saya juga pernah ikut Hizbut Tahrir serta sampai sekarang pun demikian.” Mendengar penjelasan ini, tambah terdiam si ikhwan.

Kalau tidak demikian,” lanjut si penanya, “Mungkin pemahaman saya tentang Islam sama dengan pemahaman antum sekarang (maksudnya: yang tidak mengerti apa-apa pengaturan Islam dalam negara),” jawab si penanya. Mendengar ‘pengakuan’ ini si ikhwan tampak tersipu dan ingin cepat-cepat mengakhiri diskusi.

Selanjutnya, justru pihak penanya memberi ‘wejangan ringan’ terhadap si ikhwan yang tampil lengkap dengan jenggot dan sarungnya, yang mungkin saat itu sedang berkeringat dingin menghadapi pertanyaan lelaki bercelana jeans itu. “Keluar atau masuk dari/dalam sebuah partai tidak tepat hanya berdasarkan kepada rasa senang atau benci kepada satu atau dua figur, tetapi didasarkan kepada konsep-konsep partai yang dikenalkan kepada kita.” Kisah ini nyata, dan mungkin sering terjadi.

Awalnya, mungkin si akhi tadi ingin mendakwahkan sesuatu ke lelaki bercelana jeans yang mengajaknya berbicara, bahwa ia berasal dari ’partai dakwah’ yang seharusnya diikuti, namun ia menggunakan jurus yang hanya mempan untuk orang awam yang malas berpikir. Tetapi, menghadapi pertanyaan sederhana dari lelaki bercelana jeans tadi, ia hanya terdiam seperti diamnya jenggot, baju koko dan sarung yang ia kenakan.

Apa hendak dikata, demikianlah ’model dakwah’ yang entah mencontoh dari siapa. Karena itu, waspadalah! Sebab, Islam tentu tidaklah demikian. Islam itu sesuai dengan fitrah, memuaskan akal dan pasti menentramkan jiwa. Itu yang aku pahami dari Hizbut Tahrir. []

Cerita Menjelang Konferensi Khilafah Islamiyyah 2007

January 11th, 2008 by doniosmon

 

Seorang dai dari Hizbut Tahrir berdiskusi dengan seorang kawan yang menyatakan diri dari partai tertentu. Banyak sekali dia menghadapi kata-kata ’perlawanan’ dari kawan tadi dan ia memahami itu sebagai kata-kata berkelit dari seruan memperjuangkan syariah (khilafah). Hal ini mengingat bukan dalil syara yang disampaikan.

Sebelumnya ia sering menemui orang yang bersikap serupa. Dan ia menganggap itu hal yang wajar sebagai sifat alamiah ketika seseorang tidak dibenarkan terhadap sesuatu yang selama ini dianggapnya benar. Sehingga dai tadi dengan senang hati menjawab berbagai kata-kata tersebut, termasuk ketika dia ditanyakan: “Apa antum sudah pernah berdiskusi langsung dengan orang-orang dari berbagai pergerakan yang antum ceritakan tadi?”

Sudah. Tentu saja sudah. Saya pernah berdiskusi dengan anak KAMMI KAMDA ITB Bandung. Waktu itu saya tanyakan apakah dia atau KAMMI berjuang ke arah menegakkan negara Islam. Dia mengatakan tidak bisa menjawab dan akan menanyakan dulu ke pihak atasannya. Tapi, katanya: ’secara pribadi saya menjawab arah kita sebenarnya ke khilafah juga.’ Inilah yang saya alami sendiri. Dengan anak-anak ’kelompok isbal’ pun saya berdiskusi. Saya juga ikut kajian ustad mereka dan suatu kali sempat saya tanyakan (secara tertulis) ketika ia selesai menyampaikan materi akidah, ’Akidah tauhid yang ustadz ajarkan yang bagus tadi tidakkah lebih bagus bila juga didakwahkan oleh negara?” Ia tidak menjawab pertanyaan itu, justru mengatakan: ’Rasul Saw yang didakwahkan pertama kali itu bukan negara, tetapi tauhid. Hizbut Tahrir itu….’ Ini kan tidak menjawab pertanyaan. Kalau perkataan bahwa yang didakwahkan pertama kali itu adalah akidah, anak SD juga tahu. Dengan anak-anak berbagai kelompok Islam lainnya saya juga pernah berdiskusi, bahkan dengan orang-orang kafir sekalipun. Saya pernah berdiskusi dengan orang Katolik dan juga Protestan. Dalam hal ini tentu saja saya berbicara tentang akidah kepada mereka. Saya katakan kepada orang Protestan ini, coba kamu sebutkan diantara hukum Islam yang menurutmu kontroversial dan tidak sesuai dengan fitrah manusia? Ketika dia hanya diam, saya katakan: Hukum mengangkat senjata barangkali. Coba sebutkan sebuah negara saat ini yang tidak ada angkatan perangnya! Ia menjawab: ’Tidak ada, Mas!’ Bagaimana dengan Vatikan? tanya saya. ’Ada. Kan dibantu oleh angkatan bersenjata Italia’ kata anak Protestan tadi menginformasikan tentang Vatikan yang merupakan Katolik. Lalu saya menjawab: ’Nah, kan secara fitrah manusia memang butuh angkatan bersenjata. Islam lah agama yang jelas-jelas ada perintah membentuk kekuatan bersenjata. Islam lah agama yang sesuai fitrah.’ Dengan orang Ahmadiyah saya juga pernah berdiskusi, dengan LDII yang merupakan kelompok dilarang itu juga pernah berdiskusi….” kata dai dari Hizbut Tahrir tersebut panjang lebar, sengaja melebihi apa ditanyakan oleh kawan diskusinya. Dia mengharapkan dengan bercerita banyak tadi, dia tidak terkesan sombong tetapi dengan tujuan agar kawan diskusinya yakin bahwa apa-apa yang ia jelaskan sebelumnya tentang ide-ide Hizbut Tahrir berkaitan tentang pandangan terhadap berbagai pergerakan Islam yang muncul setelah fase keruntuhan khilafah benar-benar ada faktanya di lapangan. Dan sebelumnya dia memang sengaja tidak menyebutkan nama-nama organisasi atau pergerakan yang dimaksud, tetapi hanya membuat istilah-istilah sendiri seperti kelompok isbal, kelompok jenggot dan kelompok rakyat lapar dikasih sabar, untuk tujuan memancing tanggapan dari lawan diskusinya. Dan ia berhasil. 

Lawan diskusinya kemudian hanya diam. Karena dai dari Hizbut Tahrir tadi tahu bahwa ada maksud dibalik pertanyaan sebelumnya, ia tidak ingin mendiamkan hal tersebut dan balik bertanya: ”Kenapa antum mempertanyakan apakah saya sudah pernah berdiskusi atau belum dengan kelompok-kelompok yang saya gambarkan sebelumnya?”

Dia tetap diam. Dai dari Hizbut Tahrir tadi kembali mengulangi pertanyaannya: ”Tentu ada latar belakang antum menanyakan hal tadi kepada saya… Kenapa?”

Barulah dia menjawab: ”Saya pernah membaca sebuah tulisan dari orang jamaah XXX dan isinya membahas masalah khilafah juga. Jadi tidak tepat jika mereka (orang XXX) yang antum sebutkan tadi hanya memperjuangkan jenggot atau isbal saja. Mereka memperjuangkan khilafah juga!”

Oo…gitu… ya? Penyebutan-penyebutan tadi persoalannya?” kata dai dari Hizbut Tahrir tadi memasang mimik terkesima dan sedikit tersenyum. Dan ia melanjutkan: ”Saya menamakan kelompok isbal bukan berarti tanpa alasan. Bukan berarti mereka hanya mengajarkan isbal saja. Saya tahu itu. Saya menamakan demikian karena memang ide isbal ini yang cukup menonjol dikenal masyarakat, sehingga (memakai istilah kelompok isbal) memudahkan pembahasan kita untuk dicari faktanya. Bukan berarti yang diajarkan hanya isbal saja. Ada juga yang lainnya yang diajarkan. Pasti. Namun, salah satu yang menonjol didengar masyarakat adalah tentang isbal ini. Hal ini mirip dengan Hizbut Tahrir yang menonjol dikenal masyarakat adalah ide khilafah-nya. Namun, tidak bisa dikatakan juga bahwa yang diajarkan di Hizbut Tahrir adalah khilafah-khilafah saja (dan tidak perlu pula dinamakan sebagai kelompok khilafah, sebab Hizbut Tahrir adalah sebuah nama). Apa-apa yang diajarkan Hizbut Tahrir? Ada akidah, ada metode dakwah Rasul saw, sistem perekonomian, pendidikan dan seterusnya. Persoalan bahwa kelompok isbal tadi juga membahas kewajiban penegakan khilafah, itu pembahasan yang berbeda dengan apakah ia memenuhi seruan kewajiban penegakkan khilafah tadi. Untuk memudahkan pemahaman, sebagai contoh: andaikata ada suatu pesantren yang mengajarkan tentang kewajiban jihad, dengan hanya berdasarkan hal ini apakah ia akan kita katakan telah berjihad? Belum bukan? Jadi, berbeda antara membahas jihad, dengan berjihad itu sendiri. Ini dua hal yang berbeda. Di suatu buku Hizbut Tahrir ada pembahasan bahwa suatu partai politik, bukanlah sebuah sekolah sekalipun dalam beberapa hal ia mirip dengan sekolah. Partai-partai mengajarkan materi-materi, tetapi bukan karena hal ini ia dikatakan sebagai partai politik.”

Kali ini kawan yang mengaku dari partai tertentu tadi benar-benar terdiam. Dan sekaranglah saatnya, ”Saya telah meminta antum meluangkan waktu mengkaji ide-ide Islam dari Hizbut Tahrir beberapa waktu lalu dan antum menyatakan bersedia. Kapan waktunya yang telah antum sediakan?”

Nah, itulah. Saya bisanya hari Sabtu dan Minggu ini. Tapi… antum kan mau berangkat ke Jakarta ikut Konferensi Khilafah…” akhirnya keluar juga jadwal yang di hari-hari sebelumnya sulit untuk didapat, karena alasan sibuk. Mudah-mudahan ini benar-benar jadwal yang terlahir dari niat hati, bukan lagi kata-kata berkelit (sekalipun jadwal tersebut seperti dibikin di hari yang tidak bisa).

Ya… Nggak apa-apa. Yang penting kita sudah meniatkan. Setelah Konferensi nanti, kita bikin jadwal ulang.” kata dai Hizbut Tahrir meyakinkan. []

AKIDAH DALAM SECANGKIR KOPI

January 11th, 2008 by doniosmon

Akidah dalam Secangkir Kopi (original)

Umat Kristen, sekalipun berakidah trinitas, pun tidak mau disebut menyembah tiga Tuhan. Mereka tetap mengaku menyembah hanya satu Tuhan. Mereka punya analogi: ”Saya sekalipun ada tubuh, ada ruh dan ada jiwa, diri saya hanya satu (bukan tiga). Tidak bisa dikatakan saya ada tiga. Saya sebagai manusia adalah satu makhluk dengan satu ruh, dengan satu jiwa dan satu tubuh; Diri saya bukan tiga, ’saya’ hanya satu (sekalipun ada 3 tiga unsur pada diri saya). Demikian halnya dengan Tuhan, walaupun Dia telah menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, Anak dan Ruh Kudus. Sebagaimana saya bukanlah ’saya’ tanpa ruh, tanpa jiwa dan tanpa tubuh sekaligus, demikian pula dengan Allah. Dia juga bukanlah Allah jika pada masa yang sama Dia bukan Bapa, Anak dan Ruh. Allah adalah satu entiti yang tidak dapat dipisahkan. Bapa, Anak dan Ruh Kudus berfungsi sebagai SATU – satu tujuan, satu kehendak, satu takhta, satu Kerajaan-Nya dan satu Allah." Inilah penjelasan yang saya temukan pada sebuah website Kristen.

Penjelasan mutabanat (resmi) orang Kristen ini mirip ketika saya memesan segelas kopi di warung kopi. Bila penjual hanya menyodorkan secangkir kopi (tanpa disertai air di dalamnya), berarti ia tidak sesuai pesanan. Begitupun bila hanya menyodorkan berisi kopi dan air (tanpa diberi gula). Harus ada dalam gelas (setidaknya) gula, kopi dan air sekaligus. Logika ’trinitas’-nya: secangkir kopi bukanlah secangkir kopi yang saya minta bila tanpa gula dan air. Secangkir kopi bukanlah secangkir kopi yang saya minta, jika pada masa yang sama ia bukan air, kopi dan gula.

Penjelasan seperti ini adalah fitrah. Saat masing-masing kata tadi diperdengarkan, asosiasi tertentu otomatis timbul di otak kita. Kata ’gula’, yang segera tergambar (salah satunya) adalah suatu objek (benda) terasa manis dan ciri-ciri lainnya. Kata ’air’, yang tergambar beda lagi. Haruslah demikian! Bila itu ditolak, bisa-bisa seseorang yang anda suruh mengambil air dan yang ia sodorkan bubuk kopi, anda tak bisa menyalahkannya. Kekacauan, akhirnya!

So, bagaimana pada kata ’tubuh’ dan ’ruh’? Apakah kaidah tadi tidak berlaku?

Jelas, berlaku! Bila mendengar kata tubuh, yang terbayang tentu suatu wujud fisik satu kesatuan, semisal perut, dada, pinggang, kaki dan seterusnya. Kata ’ruh’, beda lagi yang terbayang. Kata-kata ini spesifik mewakili objek tertentu, tidak bisa saling dipertukarkan. Bila ini ditolak, maka tak ada beda orang hidup dan orang mati!

Begitupun, bila analogi tadi ditujukan untuk memahamkan ’keesaan’ Tuhan, kaidah penunjukkan spesifik ini harus berlaku. Dalam hal ini, kata ’tubuh’ penunjukkannya bukan kepada (fakta) ruh, sebagaimana kata ’kopi’, penunjukkannya bukan kepada (fakta) gula dan air. Bila ini ditolak, anda tidak bisa menyalahkan saya (bahkan anak anda sendiri) bila di suatu ketika anda memintanya membuatkan kopi, isinya cuma segelas air atau segelas gula. Sebab, kopi adalah gula dan air. Gula adalah air dan kopi. Makanya, harus diterima!

Hal sama berlaku pada kata ’anak’, ’bapak’ dan ’ruh kudus’, masing-masingnya menunjuk pada objek (fakta) tertentu. Mustahil saling dipertukarkan, dimana anak adalah bapak dan bapak juga sekaligus anak.

Celakanya, justru hal yang logis ini membuat ’keesaan’ Tuhan yang ingin digambarkan dengan analogi tubuh, ruh dan jiwa menjadi tertolak sendiri. Sebab, tubuh untuk bisa menjadi saya (sebagai satu pribadi) membutuhkan adanya ’ruh’ (bila tidak, saya adalah mayat). Juga, bila saya hanyalah ruh (tanpa tubuh), bisa-bisa saya adalah kuntilanak dan sejenisnya (kalo objek ada lho!). Karenanya, agar bisa disebut saya, tubuh membutuhkan ruh dan sebaliknya. Ini menunjukkan saling ketergantungan, sekaligus keterbatasan. Lalu, bagaimana mungkin Tuhan memiliki keterbatasan? Bagaimana mungkin Tuhan membutuhkan yang lain; sebagaimana anak membutuhkan bapak dan bapak membutuhkan anak?

Pada faktanya, pihak yang melahirkan analogi ’tubuh’, ’ruh’ dan ’jiwa’ tadi akan mengingkari kaidah penunjukkan spesifik tadi. Ia berkata, ”Bapak yang dimaksud di sini bukanlah bapak seperti yang kita pahami saat ini, anak yang dimaksud di sini adalah bukan anak seperti yang kita pahami saat ini. Bapak adalah sekaligus anak (pada saat yang sama) dan juga anak adalah sekaligus bapak (pada saat yang sama).” Bila benar demikian, untuk apa lagi analogi tadi dimunculkan sebab ia tidak menjelaskan apapun!

Lebih jauh, selain tertolak penjelasan yang digunakan, tertolak pula apa yang hendak dijelaskan dengannya (yaitu ajaran trinitas itu sendiri). Tertolak trinitas berasal dari Tuhan. Ia kebohongan atas nama Tuhan, suatu bentuk kekafiran: ”Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah, (Tuhan) yang ketiga dari tiga. Padahal tak adalah Tuhan, kecuali Tuhan yang Esa.” (TQS. Al-Maa-Idah ayat 73)

Beruntunglah anda, telah meninggalkan ajaran trinitas dan ’memilih’ agama Islam. Anda telah memenuhi seruan layaknya seorang manusia (yang berakal) ketika diseru. Adapun orang yang (masih) kafir: Dan perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak mengerti. (TQS. Al Baqarah: 171). Inilah panggilan untuk anda. [dosmon@gmail.com]

Tulisanku adalah penyederhanaan tulisanku sebelumnya ”Tuhan bagi Kristen Ahad Juga, Kan?”

Akidah dalam Secangkir Kopi

January 11th, 2008 by doniosmon

Akidah dalam Secangkir Kopi

                                                                                       oleh dosmon@gmail.com

Umat Kristen, sekalipun berakidah trinitas, pun tidak mau disebut menyembah tiga Tuhan. Mereka tetap mengaku menyembah hanya satu Tuhan. Mereka punya analogi: ”Saya sekalipun ada tubuh, ada ruh dan ada jiwa, diri saya hanya satu (bukan tiga). Tidak bisa dikatakan saya ada tiga. Saya sebagai manusia adalah satu makhluk dengan satu ruh, dengan satu jiwa dan satu tubuh; Diri saya bukan tiga, ’saya’ hanya satu (sekalipun ada 3 tiga unsur pada diri saya). Demikian halnya dengan Tuhan, walaupun Dia telah menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, Anak dan Ruh Kudus. Sebagaimana saya bukanlah ’saya’ tanpa ruh, tanpa jiwa dan tanpa tubuh sekaligus, demikian pula dengan Allah. Dia juga bukanlah Allah jika pada masa yang sama Dia bukan Bapa, Anak dan Ruh. Allah adalah satu entiti yang tidak dapat dipisahkan. Bapa, Anak dan Ruh Kudus berfungsi sebagai SATU – satu tujuan, satu kehendak, satu takhta, satu Kerajaan-Nya dan satu Allah." Inilah penjelasan yang saya temukan pada sebuah website Kristen.

Penjelasan mutabanat (resmi) orang Kristen ini mirip ketika saya memesan segelas kopi di warung kopi. Bila penjual hanya menyodorkan secangkir kopi (tanpa disertai air di dalamnya), berarti ia tidak sesuai pesanan. Begitupun bila hanya menyodorkan berisi kopi dan air (tanpa diberi gula). Harus ada dalam gelas (setidaknya) gula, kopi dan air sekaligus. Logika ’trinitas’-nya: secangkir kopi bukanlah secangkir kopi yang saya minta bila tanpa gula dan air. Secangkir kopi bukanlah secangkir kopi yang saya minta, jika pada masa yang sama ia bukan air, kopi dan gula.

Penjelasan seperti ini adalah fitrah. Saat masing-masing kata tadi diperdengarkan, asosiasi tertentu otomatis timbul di otak kita. Kata ’gula’, yang segera tergambar (salah satunya) adalah suatu objek (benda) terasa manis dan ciri-ciri lainnya. Kata ’air’, yang tergambar beda lagi. Haruslah demikian! Bila itu ditolak, bisa-bisa seseorang yang anda suruh mengambil air dan yang ia sodorkan bubuk kopi, anda tak bisa menyalahkannya. Kekacauan, akhirnya!

So, bagaimana pada kata ’tubuh’ dan ’ruh’? Apakah kaidah tadi tidak berlaku?

Jelas, berlaku! Bila mendengar kata tubuh, yang terbayang tentu suatu wujud fisik satu kesatuan, semisal perut, dada, pinggang, kaki dan seterusnya. Kata ’ruh’, beda lagi yang terbayang. Kata-kata ini spesifik mewakili objek tertentu, tidak bisa saling dipertukarkan. Bila ini ditolak, maka tak ada beda orang hidup dan orang mati!

Begitupun, bila analogi tadi ditujukan untuk memahamkan ’keesaan’ Tuhan, kaidah penunjukkan spesifik ini harus berlaku. Dalam hal ini, kata ’tubuh’ penunjukkannya bukan kepada (fakta) ruh, sebagaimana kata ’kopi’, penunjukkannya bukan kepada (fakta) gula dan air. Bila ini ditolak, anda tidak bisa menyalahkan saya (bahkan anak anda sendiri) bila di suatu ketika anda memintanya membuatkan kopi, isinya cuma segelas air atau segelas gula. Sebab, kopi adalah gula dan air. Gula adalah air dan kopi. Makanya, harus diterima!

Hal sama berlaku pada kata ’anak’, ’bapak’ dan ’ruh kudus’, masing-masingnya menunjuk pada objek (fakta) tertentu. Mustahil saling dipertukarkan, dimana anak adalah bapak dan bapak juga sekaligus anak.

Celakanya, justru hal yang logis ini membuat ’keesaan’ Tuhan yang ingin digambarkan dengan analogi tubuh, ruh dan jiwa menjadi tertolak sendiri. Sebab, tubuh untuk bisa menjadi saya (sebagai satu pribadi) membutuhkan adanya ’ruh’ (bila tidak, saya adalah mayat). Juga, bila saya hanyalah ruh (tanpa tubuh), bisa-bisa saya adalah kuntilanak dan sejenisnya (kalo objek ada lho!). Karenanya, agar bisa disebut saya, tubuh membutuhkan ruh dan sebaliknya. Ini menunjukkan saling ketergantungan, sekaligus keterbatasan. Lalu, bagaimana mungkin Tuhan memiliki keterbatasan? Bagaimana mungkin Tuhan membutuhkan yang lain; sebagaimana anak membutuhkan bapak dan bapak membutuhkan anak?

Pada faktanya, pihak yang melahirkan analogi ’tubuh’, ’ruh’ dan ’jiwa’ tadi akan mengingkari kaidah penunjukkan spesifik tadi. Ia berkata, ”Bapak yang dimaksud di sini bukanlah bapak seperti yang kita pahami saat ini, anak yang dimaksud di sini adalah bukan anak seperti yang kita pahami saat ini. Bapak adalah sekaligus anak (pada saat yang sama) dan juga anak adalah sekaligus bapak (pada saat yang sama).” Bila benar demikian, untuk apa lagi analogi tadi dimunculkan sebab ia tidak menjelaskan apapun!

Lebih jauh, selain tertolak penjelasan yang digunakan, tertolak pula apa yang hendak dijelaskan dengannya (yaitu ajaran trinitas itu sendiri). Tertolak trinitas berasal dari Tuhan. Ia kebohongan atas nama Tuhan, suatu bentuk kekafiran: ”Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah, (Tuhan) yang ketiga dari tiga. Padahal tak adalah Tuhan, kecuali Tuhan yang Esa.” (TQS. Al-Maa-Idah ayat 73)

Beruntunglah anda, telah meninggalkan ajaran trinitas dan ’memilih’ agama Islam. Anda telah memenuhi seruan layaknya seorang manusia (yang berakal) ketika diseru. Adapun orang yang (masih) kafir: Dan perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak mengerti. (TQS. Al Baqarah: 171). Inilah panggilan untuk anda. [dosmon@gmail.com]

Tulisanku adalah penyederhanaan tulisanku sebelumnya ”Tuhan bagi Kristen Ahad Juga, Kan?”

Membangun Kebiasaan Membaca Anak

January 4th, 2008 by doniosmon

             “Membaca adalah perintah pertama kepada nabi umat Islam,

bagaimana mungkin kita mengabaikannya?”

(doni osmon)

Membaca adalah aktivitas yang mendapat perhatian serius dalam syariat Islam. Rasulullah Saw menaruh perhatian yang besar dalam pendidikan beliau terhadap Umat Islam periode awal akan pentingnya membaca. Salah satu tebusan terhadap tawanan perang, Rasulullah pernah menetapkan tawanan yang bisa tulis baca, harus mengajarkan kemampuannya kepada putera-puteri Islam hingga putera-puteri Islam bisa membaca.

Sangat sulit kita bayangkan, bila di abad ini ada muslim yang tidak menaruh perhatian yang besar terhadap budaya baca. Sedangkan Rasul-Nya telah mencontohkan sekian abad yang lalu. Tentu mereka bukanlah orang yang mencontoh Rasul Saw.

Karenanya orang tua yang mencontoh ajaran Nabinya, akan membangun kesadaran pentingnya membaca kepada anak-anaknya. Hal ini seharusnya dilakukan sejak anak berusia dini, karena tantangan bagi si anak tidak begitu besar. Caranya, orang tua membuat kebiasaan membaca di rumah. Dalam hal ini, orang tua meluangkan waktu untuk membaca secara rutin dan dilakukan pada waktu dan tempat yang bisa dilihat anak. Hal ini bisa dilakukan sekalipun anak belum mengenal huruf dan angka. Tujuan awalnya adalah memcontohkan suatu kebiasaan, yaitu kebiasaan membaca.

Cara lainnya, ketika selama ini orang tua mendongeng mengandalkan lisan semata–tanpa buku teks, ada baiknya sekarang menggunakan buku teks, pilih buku-buku yang banyak gambarnya. Dongeng bisa dikembangkan orang tua dari gambar-gambar yang dilihatkan kepada anak. Dari sini anak juga akan melihat pentingnya sebuah buku, ia membayangkan andai ia pandai membaca. Dengan hal ini, motivasi si anak akan besar untuk segera bisa membaca. Setiap akan mengajari anak membaca, kaitkan motivasi si anak dengan hal ini.

Dalam aktivitas membaca yang ditujukan untuk anak, diupayakan bersuara keras sedemikian rupa sehingga bisa didengar anak. Berilah jeda yang cukup panjang antara satu kata dengan kata yang lain dan lebih panjang antara satu kalimat dengan kalimat yang lain. Begitupun lakukan pengulangan minimal satu kali terhadap satu kalimat yang dibaca sebelum beralih ke kalimat sesudahnya.

Koleksi buku-buku yang sekiranya menarik perhatian anak juga harus ada dalam rumah dan diletakkan di tempat-tempat yang paling mudah dilihat anak.

Ketika orang tua membaca, luangkan waktu untuk membaca yang lebih berorientasi menarik keinginan anak. Bisa dengan sengaja memilih buku-buku yang menarik perhatiannya, umumnya buku-buku yang memuat cerita atau kisah-kisah tertentu, diantaranya buku-buku sejarah Islam, biografi salafus shalih, kisah perjalanan ulama ke berbagai negeri dan kisah-kisah penaklukan berbagai negeri.

Dalam tahap ini, baik pula memilihkan anak buku yang memuat satu karakter tertentu yang disusun dalam bab-bab tertentu. Bacakan kepada anak satu bab setiap anak menjelang tidur. Setiap akan memulai satu bab berikutnya, minta anak menceritakan satu bab sebelumnya sebagai syarat untuk melanjutkan bab berikutnya. Kegiatan ini selain akan merangsang perkembangan otak anak juga akan mematri pada diri anak akan arti sebuah buku. Demikianlah langkah awal untuk membangun kebiasaan membaca pada anak. [ ]

Memilih Istri adalah Bagian dari Keberhasilan Pendidikan Anak

January 4th, 2008 by doniosmon

Wanita yang menghiasi dirinya dengan akhlak Islam adalah idola, bahkan lebih dari itu…”

Memang benar, kerjasama yang terbina antara dua pihak tidak mengharuskan masing-masingnya memiliki kemampuan yang setara. Hanya saja, kesadaran akan kesanggupan membangun kerjasama dengan pihak yang dipilih untuk bekerjasama adalah sebuah kemestian.

Karenanya, dalam membina rumah tangga harus ada ‘standar umum’ yang sudah diterima masing-masing pihak sebelum menikah. Standar umum tadi adalah bagaimana agama si wanita yang sudah diketahui sejauh ini.

Walaupun mungkin pengetahuan itu tidak begitu detil, tetapi ketika selama ini si wanita rajin mengikuti kajian kemuslimahan di masjid sekitar tempat tinggalnya misalnya, lalu diketahui pula siapa yang menjadi teman-teman akrabnya, ini telah cukup memberi gambaran umum akan diri si wanita. Selanjutnya si wanita tadi telah bisa dijadikan ‘ salah satu target’ ta’aruf, khitbah dan menikah!

Begitupun sebaliknya, wanita yang lebih sering mejeng di pasar atau mungkin keliling mall atau rutin ke diskotik atau suka duduk-duduk di pertigaan, bergaul bebas dengan laki-laki, telah memberi gambaran umum tentang diri si wanita. Maka, ia tidak memenuhi syarat dan layak dicoret sebagai bagian dari ‘target’.

Walau terdapat pertimbangan-pertimbangan lain demi keberhasilan berumah tangga, khususnya dalam pendidikan anak, pertimbangan agama adalah sesuatu yang mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar.

Adapun perkataan orang kebanyakan bahwa tidak apa-apa dengan wanita ‘apa adanya’, kan di situlah kesempatan dakwah. Menurut kami, ini sama artinya dengan memilih pekerjaan yang lebih rumit dan memulai dari ‘nol’. Bisa jadi, dengan pilihan tersebut, ketika si laki-laki masih mendakwahi si istri, si anak sudah keburu tumbuh melewati periode termudah untuk mendidiknya, dalam hal ini periode anak-anak. Kecuali diketahui bahwa wanita tadi memang telah terbuka hatinya untuk menerima dakwah Islam.

Hanya saja, seperti perkataan umum, orang yang sama-sama rajin ke masjid biasanya akan mudah ’nyambung’ dibanding orang yang gaulnya di diskotik, konser dangdut atau campur sari.

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji , dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik. (TQS. An Nuur [24]: 26)

Karena itu, bila ingin mencari penyesuaian yang mudah, khususnya dalam pendidikan agama dan akhlak anak, cukuplah ikuti apa yang disampaikan oleh Rasul Saw. Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, ¡§Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama." (HR. Muslim dan Tirmidzi).”.

Berkaitan dengan prasyarat agama (Islam) yang dihubungkan dengan cikal bakal kualitas agama dan akhlak anak dapat kita lihat dari contoh berikut ini.

Suatu kali Umar bin Khattab ra, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aslam, meronda malam di Madinah. Di tengah malam itu Umar ra berhenti dan bersandar di sebuah dinding. Tiba-tiba dari balik dinding tempat laki-laki agung itu bersandar terdengar seorang wanita berkata kepada puterinya, “Wahai puteriku! Buku tutup susu itu dan campurkanlah air ke dalamnya!”

Anak gadis itu menjawab, “Wahai Ibuku, apakah engkau tidak tahu perintah Umar hari ini?”

Si ibu bertanya, “Apa perintahnya?”

Dia menjawab, “Dia memerintahkan kepada seorang juru penerang untuk mengumumkan bahwa tidak boleh ada susu yang dicampur dengan air.”

Si ibu berkata, “Wahai anakku! Lakukan saja! Campurkanlah susu itu dengan air! Sebab engkau berada di tempat yang tidak diketahui Umar.”

Apa jawaban si puteri? Ia memberi jawaban yang selain menunjukkan ketakwaannnya kepada Allah Swt juga menampakkan kecerdasan dirinya: ”Aku tidak mau menaati Umar dihadapan orang banyak sedangkan di tempat sepi aku melanggar perintahnya.”

Ketika Umar mendengar percakapan itu, dia berkata kepada Aslam yang menjadi teman ronda beliau malam itu, ”Wahai Aslam, hafalkan dan tandai rumah itu!” Kemudian Umar melanjutkan keliling malamnya.

Di saat subuh tiba, Umar berkata, ”Pergilah engkau ke rumah yang engkau tandai malam tadi. Selidikilah olehmu siapa wanita itu dan siapa wanita yang diajaknya bicara? Apakah dia bersuami atau tidak?”

Maka Aslam pun melaksanakan perintah Umar yang merupakan khalifah kaum muslimin. Selesai melaksanakannya, Aslam melaporkannya kepada Umar.

Usai mendengar laporan Aslam, Umar mengumpulkan putera-puteranya dan selanjutnya berkata kepada mereka, ”Apakah diantara kalian ada yang mau menikah? Terdapat seorang wanita yang akan aku nikahkan kepada kalian. Bahkan, apabila ayah kalian ini masih kuat untuk menikah, dia tidak akan aku tawarkan kepada kalian. Akulah yang akan menikahinya.”

Abdullah, salah seorang puteranya yang hadir di saat itu, berujar, ”Aku punya istri!”

Putera beliau yang lain yang bernama Ashim berkata, ”Aku belum punya istri, wahai Ayah! Engkau nikahkan saja aku dengannya.”

Setelah melewati beberapa proses, pernikahan itu pun terlaksana. Dari pernikahan Ashim dengan gadis itu lahir seorang anak perempuan. Kemudian dari anak perempuan inilah lahir seorang laki-laki yang namanya tercatat sejarah Islam sangat agung: ’Umar bin Abdul ’Aziz! Orang yang kelak menjadi pemimpin dalam mengurus kaum muslimin sedunia dalam wadah sistem negara khilafah Islamiyah! Bahkan ia disebut khalafaur rasyidin kelima, yaitu setelah Abu Bakar As Shidiq ra, Umar bin Khattab ra, Usman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra. [ ]

artikel ini dikutip dari ‘buku kecil’ buat adikku, yesi